Rabu, 18 November 2015

Laporan Intepretatif

Laporan Interpretatif biasanya memfokuskan sebuah isu, masalah, atau peristiwa-peristiwa kontroversial. Namun demikian, fokus beritanya masih berbicara mengenai fakta yang terbukti bukan opini. Dalam jenis laporan ini, reporter menganalisis dan menjelaskan. Karena laporan interpretatif bergantung kepada pertimbangan nilai dan fakta, maka sebagian pembaca menyebutnya sebagai ”opini”. Biasanya, para reporter interpretatif menemui sedikit masalah dalam pencarian fakta. Mereka umumnya mencoba menerangkan berbagai peristiwa publik. Sumber informasi dapat diperoleh dari narasumber yang mungkin hanya memberikan informasi yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan mereka. Laporan interpretatif biasanya dipusatkan untuk menjawab pertanyaan mengapa. Misalnya, mengapa walikota mengeluarkan pernyataan tersebut, menunjuk itu, mengadakan perjalanan itu? Pendeknya, berita interpretatif bersifat bertanya, apa makna sebenarnya dari peristiwa tersebut.



Contoh Laporan Intepretatif :



JAKARTA, Untuk pertama kalinya, dunia memeringati Pekan Peduli Antibiotik Sedunia pada 16-22 November 2015. Hal ini untuk meningkatkan kesadaran mengenai bahaya resistensi antibiotik yang kini menjadi masalah di dunia, termasuk Indonesia.
Banyak faktor yang menyebabkan resistensi antibiotik seperti dijelaskan Penanggungjawab Resistensi Antimikroba WHO Indonesia, Dewi Indriani dalam acara Media Briefing Peringatan Pekan Peduli Antibiotik Sedunia beberapa waktu lalu.
Perlu ditegaskan, antibiotik adalah obat untuk mengatasi infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Ketika sudah resisten, maka bakteri penyebab penyakit tak lagi ampuh dilawan menggunakan antibiotik.
Dewi mengungkapkan, sebanyak 50 persen antibiotik yang diresepkan tidak tepat. Artinya, dokter memberikan resep antibiotik kepada pasien yang sebenarnya tidak membutuhkan antibiotik. Misalnya, memberikan antibiotik pada anak-anak yang sakit flu dan batuk. Padahal, kedua penyakit tersebut umumnya disebabkan oleh virus sehingga tak perlu antibiotik.
Selain itu, sejumlah kebiasaan masyarakat di Indonesia meyimpan antibiotik di rumah. Akibatnya, antibiotik digunakan sesuka hati saat sakit tanpa resep dokter. Antibiotik juga dijual bebas di apotek atau toko obat.
Kebiasaan menggunakan antibiotik secara berlebihan ini lama-kelamaan membuat bakteri menjadi resisten terhadap antibiotik.


Interpretasi : Ternyata Peggunaan Antibiotik terlalu sering itu juga tidak baik. Antibiotik merupakan obat untuk mengatasi infeksi yang disebabkan oleh firus. Biasanya Antibiotik diberikan dari resep dokter beserta dengan obat utama pada penyakit yang diderita pasien. Akan tetapi sekarang mendapatkan Antibiotik sudah sangatlah mudah, Antibiotik bisa dibeli di apotik atau toko obat dengan tanpa adanya resep dokter sehingga masyarakat jadi terlalu bergantung pada obat Antibiotik, padahal pemakaian Antibiotik yang berlebihan bisa membuat bakteri yang menyebabkan penyakit secara bertahap kehilangan kepekaan terhadap obat yang sebelumnya membunuh mereka. Saat obat lebih banyak digunakan, risiko resistensi obat meningkat karena kasus penggunaan antibiotik yang tidak tepat atau putus obat meningkat.




 


 
referensi : 
1. Sumadiria, Haris. 2008. Jurnalistik Indonesia: Menulis Berita dan Feature. Cetakan Ketiga. Bandung: Simbuisa Rekatama Media. 
2. Berita diambil dari http://health.kompas.com/read/2015/11/17/145700023/Penyebab.Bakteri.Tak.Lagi.Ampuh.dengan.Antibiotik 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar