Laporan Interpretatif biasanya memfokuskan sebuah isu, masalah, atau
peristiwa-peristiwa kontroversial. Namun demikian, fokus beritanya
masih berbicara mengenai fakta yang terbukti bukan opini. Dalam
jenis laporan ini, reporter menganalisis dan menjelaskan. Karena
laporan interpretatif bergantung kepada pertimbangan nilai dan
fakta, maka sebagian pembaca menyebutnya sebagai ”opini”. Biasanya,
para reporter interpretatif menemui sedikit masalah dalam
pencarian fakta. Mereka umumnya mencoba menerangkan berbagai
peristiwa publik. Sumber informasi dapat diperoleh dari narasumber yang
mungkin hanya memberikan informasi yang sesuai dengan keinginan dan
kebutuhan mereka. Laporan interpretatif biasanya dipusatkan untuk
menjawab pertanyaan mengapa. Misalnya, mengapa walikota
mengeluarkan pernyataan tersebut, menunjuk itu, mengadakan
perjalanan itu? Pendeknya, berita interpretatif bersifat bertanya,
apa makna sebenarnya dari peristiwa tersebut.
Contoh Laporan Intepretatif :
JAKARTA, Untuk pertama kalinya, dunia
memeringati Pekan Peduli Antibiotik Sedunia pada 16-22 November 2015.
Hal ini untuk meningkatkan kesadaran mengenai bahaya resistensi
antibiotik yang kini menjadi masalah di dunia, termasuk Indonesia.
Banyak faktor yang menyebabkan resistensi antibiotik seperti dijelaskan
Penanggungjawab Resistensi Antimikroba WHO Indonesia, Dewi Indriani
dalam acara Media Briefing Peringatan Pekan Peduli Antibiotik Sedunia
beberapa waktu lalu.
Perlu ditegaskan, antibiotik adalah obat untuk mengatasi infeksi
yang disebabkan oleh bakteri. Ketika sudah resisten, maka bakteri
penyebab penyakit tak lagi ampuh dilawan menggunakan antibiotik.
Dewi mengungkapkan, sebanyak 50 persen antibiotik yang diresepkan
tidak tepat. Artinya, dokter memberikan resep antibiotik kepada pasien
yang sebenarnya tidak membutuhkan antibiotik. Misalnya, memberikan
antibiotik pada anak-anak yang sakit flu dan batuk. Padahal, kedua
penyakit tersebut umumnya disebabkan oleh virus sehingga tak perlu
antibiotik.
Selain itu, sejumlah kebiasaan masyarakat di Indonesia meyimpan
antibiotik di rumah. Akibatnya, antibiotik digunakan sesuka hati saat
sakit tanpa resep dokter. Antibiotik juga dijual bebas di apotek atau
toko obat.
Kebiasaan menggunakan antibiotik secara berlebihan ini lama-kelamaan membuat bakteri menjadi resisten terhadap antibiotik.
Interpretasi : Ternyata Peggunaan Antibiotik terlalu sering itu juga tidak baik. Antibiotik merupakan obat untuk mengatasi infeksi yang disebabkan oleh firus. Biasanya Antibiotik diberikan dari resep dokter beserta dengan obat utama pada penyakit yang diderita pasien. Akan tetapi sekarang mendapatkan Antibiotik sudah sangatlah mudah, Antibiotik bisa dibeli di apotik atau toko obat dengan tanpa adanya resep dokter sehingga masyarakat jadi terlalu bergantung pada obat Antibiotik, padahal pemakaian Antibiotik yang berlebihan bisa membuat bakteri yang menyebabkan penyakit secara bertahap kehilangan kepekaan terhadap obat yang sebelumnya
membunuh mereka. Saat obat lebih banyak digunakan, risiko resistensi
obat meningkat karena kasus penggunaan antibiotik yang tidak tepat atau
putus obat meningkat.
referensi :
1. Sumadiria, Haris. 2008. Jurnalistik Indonesia: Menulis Berita dan Feature. Cetakan Ketiga. Bandung: Simbuisa Rekatama Media.
2. Berita diambil dari http://health.kompas.com/read/2015/11/17/145700023/Penyebab.Bakteri.Tak.Lagi.Ampuh.dengan.Antibiotik
Tidak ada komentar:
Posting Komentar